Minggu, 27 Februari 2011

PENGERTIAN SARJANA MEMBUMI

Belajar di sebuah Perguruan Tinggi telah menjadi harapan bagi semua pelajar yang telah menyelesaikan studinya disekolah. Apalagi bisa sampai masuk ke Perguruan Tinggi Negeri itu pasti sudah jadi keinginan yang teramat sangat bagi setiap pelajar. Namun ternyata tidak mudah bagi seorang pelajar atau calon mahasiswa yang ingin mewujudkan itu semua, dikarenakan banyak faktor yang menghambat mereka semua untuk mendapatkan cita-cita mereka.
Banyak yang bisa melanjutkan ke jenjang tersebut namun ternyata kebanyakan mereka semua hanya bermain-main, tidak serius, mencari kepuasan dan masih banyak lagi yang tidak seharusnya mereka lakukan. Padahal kalau mereka yang berprilaku seperti itu mereka berpikir, bagaimana sulitnya orang tuanya mencari nafkah bagi mereka. Tetapi mereka hanya mengikuti keinginan hawa nafsunya, maka tidaklah heran kalau banyak dari mereka yang belum bisa lulus-lulus dari jenjang tersebut atau yang bisa kita sebut sebagai “Mahasiswa Abadi”.
Jika kita melihat lebih jauh lagi, banyak sekali saudara-saudara kita yang ingin sekali melanjutkan sekolahnya sampai mendapat gelar Sarjana harus menutupi keinginannya dan cita-citanya karena tidak mampu dari segi banyak hal.
Seharusnya di negeri yang teramat besar ini banyak lulusan-lulusan yang dapat menjadi pemimmpin-pemimpin di negeri ini dengan keahliannya masing-masing, saya yakin Indonesia akan menjadi salah satu Negara yang berkembang dan mungkin bisa mengalahkan banyak Negara-negara di dunia.
Oleh karena itu para calon lulusan ini harusnya mereka berpikir konsep bagaimana menjadi seorang “SARJANA YANG MEMBUMI”. Apakah itu? Sarjana yang bagaimanakah itu? Dan bagaimana cara menjadi seperti itu?
Sarjana Membumi adalah seorang sarjana yang dapat bermanfaat bagi siapapun di sekitarnya karena lulusan tersebut memiliki sebuah komitmen yang pasti dan tujuan yang baik bagi semua orang yang menjadi bagian dari lingkungannya maupun tidak. Menjadi seorang sarjana membumi itu sangatlah sulit bagi mereka yang hanya mengikuti keinginan dan hawa nafsu yang negatf-negatif saja, tetapi bagi yang selalu berpikir positif, selalu mengembangkan kreatifitasnya dan tidak mudah menyerah itulah yang akan menjadi bakal calon Sarjana yang Membumi.
Banyak cara-cara untuk menjadi seorang Sarjana yang Membumi asalkan dia percaya akan kemampuannya sendiri maka keberhasilan akan menghampirinya. Seorang Sarjana Membumi harus bisa berguna bagi bangsa dan negaranya dikemudian hari, dengan menggunakan keahlian dan kemampuannya maka bisa membangun negeri ini.
Selain itu seorang Sarjana yang Membumi harus bisa beadaptasi dimanapun dia berada karena dengan begitu dia bisa memberikan manfaat positif bagi orang-orang disekitarnya. Maka dari itu kita sebagai calon penguasa negeri ini janganlah bermalas-malasan, sudah saatnya kita membangun negeri kita yang tercinta ini agar dapat makmur dan sejahtera.

MAKNA KATA SUKSES BAGI DIRI SENDIRI

Sukses. Ini kata yang sering kita dengar. Sesuatu yang diinginkan setiap orang di dunia ini. Untuk sukses setiap orang berusaha dan siap berkorban apa pun untuk mencapainya.

Lalu, apa itu sukses? Kita sering mendengar orang berkata si A sukses dan si B belum sukses. Kita juga sering mendengar seseorang dikatakan sukses apabila memiliki minimal salah satu dari berikut ini: harta yang banyak, atau nama harum, atau kekuasaan/pengaruh di masyarakat. Menjadi pengusaha kaya raya, penyanyi terkenal, pejabat tinggi adalah sekian contoh-contoh orang yang sukses. Demikianlah masyarakat mendefinisikan sukses, dan kita hidup dalam bayang-bayang menurut definisi masyarakat tersebut.

Lalu banyak di antara kita mulai menggambarkan sukses dengan meniru seperti orang lain. Padahal kita tidak mungkin menjadi orang lain. Apakah benar dengan menjadi orang kaya, terkenal, prestasi tinggi, kekuasaan tinggi sudah menjamin kita menjadi sukses?

Apakah demikian? Mungkin. Tetapi yang jelas, belum pernah saya mendengar ketika seseorang menjelang ajalnya, orang tersebut sibuk mentransfer uangnya ke rekening di akhirat. Atau mem'Fedex'kan barang-barang berharganya ke dunia sana. Atau dapat menawar kepada Sang Pencipta untuk menukar waktu lebih lama di dunia dengan pengaruh yang dimilikinya. Anda belum pernah mendengar juga, bukan.

John C, Maxwell dalam bukunya The Success Journey menyatakan bahwa sukses sejati bukanlah sesuatu yang bisa kita capai atau peroleh. Menurutnya sukses itu sebenarnya suatu perjalanan yang harus kita tempuh sepanjang hidup. Saya sependapat dengannya.

Menurut saya, sukses adalah perjalanan ke dalam. Sukses adalah perjalanan ke dalam diri kita yang paling dalam. Perjalanan ke dalam dimulai dengan menyadari hakekat kita sebagai manusia. Seperti benda dan makhluk hidup lain di alam semesta, semua mengalami perubahan, dari tidak ada menjadi ada, lalu tiada, kembali ke Sang Pencipta. Seperti bunga yang tumbuh dari benih kecil, berkembang dan mekar sesaat mewarnai hidup, lalu layu dan kembali ke tanah, lebih kurang demikian juga hidup kita. Sebuah perjalanan yang singkat.

Yang kita miliki hanya waktu, menghitung detak demi detak jantung. Sepanjang hidupnya seorang manusia dengan masa hidup 70 tahun hanya memiliki waktu 840 bulan, atau 25.200 hari, atau 604.800 jam, atau 36.288.000 menit. Begitu singkat, bukan.

Dengan mengerti hakekat hidup yang fana, kita mulai mencoba mengenali diri kita yang sebenarnya. Segala kelebihan dan kekurangan kita. Segala bakat istimewa yang dianugerahkan Sang Pencipta. Segala impian dari hati kita yang paling dalam. Segala dedikasi yang ingin kita berikan untuk orang-orang kita cintai dan dunia ini.

Yang kita memiliki adalah masa yang singkat di dunia ini. Dengan mengerti hakekat sebagai seorang manusia, menyukuri bakat dan anugerah yang diberikan Sang Pencipta dan mendedikasikan untuk orang lain akan membuat masa yang singkat ini menjadi masa yang bermanfaat bagi kita dan orang lain. Dan membuat detik-detik yang kita lalui menjadi sebuah perjalanan yang penuh makna.

Seorang teman yang saya kenal di MySpace mendeskripsikan sukses sebagai seorang manusia dengan begitu sederhana dan indah. Your purpose is to find your gifts. Your meaning is to give them to others. That is success all about.

Saya ingin menutup artikel ini dengan ucapan Po Bronson: Failure's hard, but success is far more dangerous. If you are successful at the wrong thing, the mix of praise and money and opportunity can lock you in forever.

Jadi, hati-hati saat Anda mendefinisikan dan merencanakan sukses Anda. Jangan sampai kita sukses menurut ukuran orang lain, tetapi kita tidak pernah bahagia menjalaninya. Lalu bagaimana kita mendefinisikan sukses kita? Anda yang memiliki previlise untuk melakukannya. Dan hati Anda yang memiliki jawabannya.
 by Chif on Wed Oct 15, 2008 8:27 am

KIAT SUKSES BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Cara belajar & sistem belajar diperguruan tinggi jelas sangat berbeda dengan cara belajar di sekolah menengah umum. Belajar di perguruan tinggi memerlukan kemandirian dan disiplin pribadi. Setiap peserta kuliah dituntut aktif berpartisipasi tidak hanya datang untuk mencatat bahan kuliah, tetapi juga untuk berlatih dan berdiskusi dalam rangka memahami materi yang diajarkan.
Dosen-dosen akan sangat senang bila mahasiswanya aktif menanyakan setiap topik yang dibahas di dalam ruang kuliah maupun di luar kuliah. Biasanya dosen menyediakan waktu konsultasi di luar jam kuliah.
  1. Mekanisme Mengikuti Kuliah.
    Jangan datang terlambat, karena bila teman2 terlambat maka akan kehilangan momen penting. Bila momen tersebut hilang, maka akan sulit untuk menyesuaikan diri pada laju perkuliahan & laju penyampaian materi yang membahas materi kuliah pada saat itu. Materi ini biasanya disampaikan dengan padat.
    Periksalah materi perkuliahan dengan baik sebelum datang ke ruang kuliah.
  2. Sebaiknya teman2 telah mempelajari terlebih dahulu materi sebelumnya dan membaca materi yang akan diajarkan. Jika masih belum mengerti, diskusikanlah materi tersebut dengan dosen pengajar pada awal kuliah. Akan lebih baik lagi bila teman2 membaca materi yang akan diajarkan sehingga pada saat perkuliahan teman2 telah memiliki gambaran perkuliahan secara umum & tidak terlalu asing dengan istilah-istilah baru yang digunakan dalam perkuliahan.
    Jangan dengan sengaja meninggalkan kuliah.
  3. Perkuliahan adalah suatu rangkaian penyampaian materi. Jika teman2 sekali tidak ikut kuliah, maka teman2 harus belajar sendiri untuk memahami materinya, dan jika materi tersebut belum dikuasai, maka akan sukar untuk memahami materi berikutnya. Perlu diingat bahwa hampir seluruh mata kuliah mensyaratkan agar dapat mengikut ujian, persentase kehadiran harus lebih dari 90 %.
    Berpakaianlah secara sopan dan rapi.
  4. Cara berpakaian seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut. Berpakaian rapi meliputi mentaati norma dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat serta menutupi seluruh aurat dengan baik. Dengan berpakaian rapi selain tidak mengganggu orang lain juga menunjukkan bahwa kita memiliki norma dan sistem nilai yang luhur. Diwajibkan bagi para mahasiswa memakai sepatu saat menghadap dosen dan menghadiri perkuliahan.
Keberhasilan dalam menyelesaikan studi di perguruan tinggi dalam waktu yang relative singkat merupakan impian seluruh mahasiswa, keluarga dan orang tua. Namun untuk dapat mencapai sukses yang diinginkan itu bukanlah hal yang mudah, karena cara belajar di perguruan tinggi lebih bersifat mandiri dibandingkan cara belajar di tingkat pendidikan sebelumnya (SMU/SMK) yang lebih banyak dibimbing secara langsung oleh para guru.
Oleh karena itu jika para mahasiswa tidak dapat menyesuaikan diri dalam belajar di perguruan tinggi, maka kemungkinan besar mahasiswa yang bersangkutan akan gagal mencapai gelar kesarjaan sebagaimana yang di cita-citakan, dan kalaupun berhasil mencapai gelar kesarjanaannya pasti waktu studi yang dipergunakan untuk meraih gelar tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama dari waktu normal yang seharusnya.
Untuk membantu para mahasiswa agar dapat menyelesaikan studinya di perguruan tinggi dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, maka diperlukan kiat-kiat belajar yang sukses, yakni sebagai berikut.
  1. Waktu Mengikuti Kuliah.
    Dalam sistem perkuliahan konvensional, para mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti kuliah tatap muka minimal 75% dalam satu semester. Agar berhasil mendapatkan tambahan pengetahuan dari dosen dalam kegiatan perkuliahan tersebut maka sebelum berangkat ke kampus teman2 harus sudah mempersiapkan diri dengan membaca terlebih dahulu buku wajib dari materi kuliah yang akan disampaikan oleh para dosen pada hari itu. Untuk mengetahui jenis buku wajib dan materi apa yang akan disampaikan oleh dosen, maka teman2 dapat mengetahuinya dari Satuan Acara Perkuliahan (SAP), yang biasanya diberikan oleh dosen di awal perkuliahan pada setiap semesternya.
    Seandainya teman2 belum mendapatkan SAP yang dibuat oleh dosen, teman2 dapat menanyakan garis-garis besar materi perkuliahan tersebut kepada pada rekan-rekan mahasiswa senior yang pernah mengikuti mata kuliah tersebut. Pakar pembelajaran dewasa ini sependapat bahwa keberhasilan dan kebermaknaan dalam belajar ditentukan oleh kesiapan belajar (readness of learning), demikian pandangan konstruktivisme dalam pembelajaran.
    Selain sudah membaca materi perkuliahan, teman2 juga diharapkan tidak terlambat dalam mengikuti perkuliahan, karena jika teman2 terlambat selain dapat mengganggu kosentrasi dosen dan para mahasiswa lain yang sedang belajar, kemungkinan teman2 juga tidak akan dapat membuat kesimpulan terhadap materi kuliah yang disampaikan oleh dosen, karena teman2 tidak mendapatkan informasi materi perkuliahan secara utuh atau lengkap, karena teman2 terlambat masuk ke ruang kelas. Sedangkan untuk minta dosen mengulangi penyampaian materi perkuliahan dari awal tidaklah mudah, karena tidak semua dosen bersedia untuk melakukannya.
    Setelah teman2 masuk ke kelas tepat waktu, maka posisi tempat duduk juga harus anda perhatikan, karena posisi tempat duduk sangat mempengaruhi dalam menyimak materi kuliah yang disampaikan oleh dosen. Jangan sampai tempat duduk menghalangi penglihatan kita terhadap apa yang dituliskan oleh dosen di papan tulis, atau apa yang dipancarkan oleh slide OHP ataupun LCD.
    Selain itu posisi tempat duduk kita jangan sampai mengganggu pendengaran kita terhadap suara dosen yang sedang menyampaikan materi kuliahnya, karena tidak semua dosen bersedia menggunakan alat pengeras suara dalam memberikan kuliah di kelas.
    Pada waktu mengikuti kuliah di kelas juga harus mencatat berbagai kata kunci atau hal-hal penting sebagai intisari dari materi yang sedang disampaikan oleh dosen, dan setelah tiba di rumah bentuk catatan yang masih berupa garis besar itu harus disalin kembali secara rinci dan sistematis ke dalam buku khusus sesuai jenis mata kuliahnya. Proses menyalin kembali catatan kuliah ke buku khusus itu harus dilakukan pada hari itu juga, karena jika ditunda kemungkinan kita lupa memahami makna catatan yang telah kita lakukan, atau catatan kita itu hilang entah kemana.
  2. Belajar di Rumah.
    Agar seluruh materi perkuliahan dapat dimengerti secara tuntas, maka teman2 harus menyediakan waktu untuk mempelajari kembali seluruh materi kuliah yang sudah diberikan oleh para dosen, karena akan sulit bagi kita untuk memahami materi kuliah jika hanya belajar di ruang kelas pada waktu tatap muka dengan dosen. Hal ini disebabkan waktu yang tersedia untuk belajar di kelas relative lebih singkat, sedangkan materi kuliah biasanya sangat banyak sehingga proses belajar di kelas biasanya lebih bersifat umum, sedangkan hal-hal yang lebih rinci harus kita baca sendiri dari buku wajib yang telah ditetapkan.
    Adapun kegiatan belajar di rumah ini juga termasuk dalam hal mengerjakan berbagai tugas yang diwajibkan oleh dosen agar dapat lebih mendalami materi perkuliahan yang sedang dipelajari.
    Agar kegiatan belajar di rumah dapat mencapai sasaran seperti yang diharapkan, maka langkah awal yang perlu kita persiapkan adalah menyiapkan berbagai keperluan alat tulis menulis secara lengkap di meja belajar kita, sehingga jika kita sudah duduk di meja belajar tidak perlu lagi bergerak kesana-kemari untuk mencari berbagai alat tulis, karena semuanya sudah tersedia di sekitar kita. Selain itu ruangan belajar kita hendaklah terasa nyaman dan menyenangkan, tidak terlalu panas atau terlalu dingin, dengan sirkulasi udara yang sehat serta dalam lingkungan yang tenang.
    Agar materi kuliah dapat lebih dipahami, maka dari hasil membaca buku wajib yang telah ditetapkan itu, kita harus membuat ringkasan atau resume. Dalam membuat resume, kita harus menulis kembali pokok-pokok pikiran dari buku wajib yang telah kita baca dengan menggunakan redaksi kalimat yang kita buat sendiri agar lebih mudah dipahami.
  3. Memanfaatkan Perpustakaan.
    Pada dasarnya perpustakaan itu hanyalah membantu kita untuk melengkapi bahan bacaan yang sudah kita miliki sebelumnya. Oleh karena itu untuk berbagai buku wajib yang sudah ditentukan oleh dosen sebaiknya dapat kita miliki secara pribadi, jadi untuk buku wajib kita tidak perlu lagi meminjamnya dari perpustakaan, karena biasanya untuk buku-buku tertentu jumlahnya masih terbatas dan jika ingin meminjam juga dibatasi waktu, sehingga belum selesai buku itu kita pelajari sudah harus dikembalikan.
    Namun jika situasi yang belum memungkinkan untuk memiliki buku secara pribadi, atau masih memerlukan buku pelengkap yang lain, maka penggunanaan fasilitas perpustakaan merupakan salah satu pilihan yang tepat bagi para mahasiswa agar bisa mendalami berbagai materi perkuliahan/pengetahuan yang sedang dipelajari.
    Untuk mendapatkan buku-buku yang diperlukan maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah melihat daftar katalog yang biasanya disediakan di ruang perpustakaan. Dari daftar katalog ini kita dapat melihat judul buku dan nama pengarangnya yang telah disusun secara alfabetis, sehingga mudah untuk menemukan buku- buku yang kita perlukan. Biasanya buku-buku yang sejenis seperti yang kita perlukan tersebut jumlahnya relatif banyak, karena pada satu judul buku dikarang dan diterbitkan oleh berbagai pihak, sedangkan berdasarakan aturan biasanya jumlah buku yang dipinjam tidak boleh lebih dari dua buah judul, sehingga berdasarakan aturan ini kita harus bisa memilih judul-judul buku yang betul-betul sesuai yang kita perlukan.
    Untuk menentukan judul buku yang sesuai dengan yang perlukan itu, maka kita harus dapat membaca sepintas terhadap berbagai buku yang ada di perpustakaan, dan dari membaca sepintas ini kita dapat menetukan buku pilihan sesuai yang kita perlukan.
Berbagai uraian singkat tentang kiat-kiat tersebut di atas merupakan pedoman belajar di perguruan tinggi yang berlaku secara umum, teman2 dapat melengkapinya dengan kiat-kiat lain yang dirasa lebih mudah untuk diterapkan di lingkungan diri masing-masing. Selamat belajar semoga sukses mengapai cita-cita, amin.

Senin, 10 Januari 2011

Teori Motivasi dalam Manajemen SDM

Pengertian Motivasi
Salah satu aspek memanfaatkan pegawai ialah pemberian motivasi (daya perangsang) kepada pegawai, dengan istilah populer sekarang pemberian kegairahan bekerja kepada pegawai. Telah dibatasi bahwa memanfaatkan pegawai yang memberi manfaat kepada perusahaan. Ini juga berarti bahwa setiap pegawai yang memberi kemungkinan bermanfaat ke dalam perusahaan, diusahakan oleh pimimpin agar kemungkinan itu menjadi kenyataan. Usaha untuk merealisasi kemungkinan tersebut ialah dengan jalan memberikan motivasi. Motivasi ini dimaksudkan untuk memberikan daya perangsang kepada pegawai yang bersangkutan agar pegawai tersebut bekerja dengan segala daya dan upayanya (Manulang , 2002).

Menurut The Liang Gie Cs. (Matutina dkk ,1993) bahwa pekerjaan yang dialakukan oleh seseorang manajer dalam memberikan inspirasi, semangat, dan dorongan kepada orang lain (pegawai) untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang atau pegawai agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana dikehendaki dari orang tersebut. Oleh karena itu seorang manajer dituntut pengenalan atau pemahaman akan sifat dan karateristik pegawainya, suatu kebutuhan yang dilandasi oleh motiv dengan penguasaan manajer terhadap perilaku dan tindakan yang dibatasi oleh motiv, maka manajer dapat mempengaruhi bawahannya untuk bertindak sesuai dengan keinginan organisasi.
Menurut Martoyo (2000) motivasi pada dasarnya adalah proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan yang kita inginkan. Dengan kata lain adalah dorongan dari luar terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Dengan dorongan (driving force) disini dimaksudkan desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan kecendrungan untuk mempertahankan hidup. Kunci yang terpenting untuk itu tak lain adalah pengertian yang mendalam tentang manusia.
Motivasi berasal dari motive atau dengan prakata bahasa latinnya, yaitu movere, yang berarti “mengerahkan”. Seperti yang dikatakan Liang Gie dalam bukunya Martoyo (2000) motive atau dorongan adalah suatu dorongan yang menjadi pangkal seseorang melakukan sesuatu atau bekerja. Seseorang yang sangat termotivasi, yaitu orang yang melaksanakan upaya substansial, guna menunjang tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya, dan organisasi dimana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi, hanya memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi, merupakan sebuah konsep penting studi tentang kinerja individual. Dengan demikian motivasi atau motivation berarti pemberian motiv, penimbulan motiv atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat juga dikatakan bahwa motivation adalah faktor yang mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu (Martoyo , 2000).
Manusia dalam aktivitas kebiasaannya memiliki semangat untuk mengerjakan sesuatu asalkan dapat menghasilkan sesuatu yang dianggap oleh dirinya memiliki suatu nilai yang sangat berharga, yang tujuannya jelas pasti untuk melangsungkan kehidupannya, rasa tentram, rasa aman dan sebagainya.
Menurut Martoyo (2000) motivasi kinerja adalah sesuatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Menurut Gitosudarmo dan Mulyono (1999) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tertentu, oleh karena itu motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia pasti memiliki sesuatu faktor yang mendorong perbuatan tersebut. Motivasi atau dorongan untuk bekerja ini sangat penting bagi tinggi rendahnya produktivitas perusahaan. Tanpa adanya motivasi dari para karyawan atau pekerja untuk bekerja sama bagi kepentingan perusahaan maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Sebaliknya apabila terdapat motivasi yang besar dari para karyawan maka hal tersebut merupakan suatu jaminan atas keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Motivasi atau dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama demi tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam, yaitu:
a. Motivasi finansial, yaitu dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan. Imbalan tersebut sering disebut insentif.
b. Motivasi nonfinansial, yaitu dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial/ uang, akan tetapi berupa hal-hal seperti pujian, penghargaan, pendekatan manusia dan lain sebagainya (Gitosudarmo dan Mulyono , 1999).
Menurut George R. dan Leslie W. (dalam bukunya Matutina. dkk , 1993) mengatakan bahwa motivasi adalah “……getting a person to exert a high degree of effort ….” yang artinya motivasi membuat seseorang bekerja lebih berprestasi. Sedang Ravianto (1986) dalam bukunya ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kinerja, yaitu atasan, rekan, sarana fisik, kebijaksanaan dan peraturan, imbalan jasa uang, jenis pekerjaan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan (action atau activities) dan memberikan kekuatan yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidak seimbangan. Ada definisi yang menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan :
  1. Pengaruh perilaku.
  2. Kekuatan reaksi (maksudnya upaya kerja), setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan.
  3. Persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu. (Campell , 1970).

Kualitas SDM yang Dibutuhkan Saat Ini

Di era yang sudah semakin maju ini, atau biasa disebut dengan Era Globalisasi, Sumber Daya Manusia ( SDM ) harus lebih ditingkatkan kualitasnya agar dapat bersaing dengan yang lainnya. Semakin berkualitas SDM suatu daerah maka akan semakin maju daerah tersebut. Maka dari itu, pengembangan Sumber Daya Manusia guna mendapatkan SDM yang bekualitas dan mempunyai daya saing merupakan hal yang harus diperhatikan oleh suatu daerah.


Pengembangan kualitas SDM di setiap daerah haruslah dilakukan sejak dini. Tidaklah mudah memang karena membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak seberapa. Apalagi harus ada kesadaran masing - masing pribadi untuk membuat diri mereka menjadi seorang pribadi yang berkualitas.


Sumber Daya Manusia yang berkualitas adalah semua pribadi manusia yang memiliki bakat, kreativitas, potensi, tenaga, imajinasi, kemampuan untuk memajukan diri, tangguh dan ulet, mandiri, terampil, memiliki tanggung jawab, berorientasi ke masa depan, disipilin, berbudi, mampu bekerjasama dan pantang menyerah.Kualitas SDM yang seperti itulah yang dibutuhkan oleh setiap daerah agar dapat membangun daerahnya masing - masing menjadi lebih maju. Setiap daerah yang telah maju akan membuat negara tersebut juga menjadi maju.


Masuknya berbagai kebudayaan asing merupakan salah satu faktor yang harus diwaspadai dalam pengembangan SDM yang berkualitas. Generasi muda yang merupakan salah satu sumber pengembangan SDM harus bisa selektif dalam memilih kebudayaan asing tersebut, mengambil hal - hal yang positif dan meninggalkan yang negatif sehingga dapat membuat SDM yang lebih variatif dan inovatif.


Pengembangan SDM yang berkualitas, bukannya tanpa hambatan. Banyak hambatan yang harus dihadapi untuk membangun SDM yang berkualitas tersebut. Belum siapnya setiap daerah untuk memanfaatkan peluang dan memenangkan persaingan yang ada merupakan masalah utama dan harus segera diselesaikan. Dan lagi di era globalisasi saat ini, dimana perkembangan teknologi sudah semakin maju, masih banyak SDM di setiap daerah di Indonesia yang belum mengenal teknologi yang ada. Sehingga pembangunan SDM berkualitas yang berorientasi teknologi merupakan hal yang harus dipikirkan untuk sekarang ini dan masa depan nantinya.

Pemerintah sebagai instansi yang mengatur segala sesuatu tentang penghidupan masyarakat, hendaknya lebih memperhatikan bagaimana mengembangkan manusia yang berkualitas dari dini, daripada sesuatu yang berbau instan. Salah satu caranya adalah dengan pengembangan pendidikan. Seperti yang kita ketahui, pendidikan di Indonesia belumlah maju seperti pendidikan negara - negara lainnya. Hal ini dikarenakan karena masih banyaknya sekolah - sekolah yang ada belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Terlebih lagi bagi sekolah yang ada di luar Jakarta. Jangankan untuk pendidikan yang berorientasi teknologi, pendidikan tradisional pun masih sangat sulit didapatkan anak - anak yang bersekolah di daerah. Padahal jika pemerintah mau saja sedikit berusaha untuk memajukan pendidikan yang ada di daerah, maka bukan mustahil jika Indonesia akan lebih maju, karena banyak sekali anak - anak yang bersekolah di daerah yang memiliki potensi dan akan menjadi SDM yang bekualitas untuk negeri ini.


http://www.ginandjar.com/public/01MembangunSDM.pdf
http://high-aims.blogspot.com/2008/02/membangun-sdm-berkualitas.html

Kamis, 07 Oktober 2010

SEJARAH SINGKAT TEORI EVOLUSI

Akar pemikiran evolusionis muncul sezaman dgn keyakinan dogmatis yg berusaha keras mengingkari penciptaan. Mayoritas filsuf penganut pagan di zaman Yunani kuno mempertahankan gagasan evolusi. Jika kita mengamati sejarah filsafat kita akan melihat bahwa gagasan evolusi telah menopang banyak filsafat pagan. Akan tetapi bukan filsafat pagan kuno ini yg telah berperan penting dalam kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan modern melainkan keimanan kepada Tuhan. Pada umumnya mereka yg mempelopori ilmu pengetahuan modern mempercayai keberadaan-Nya. Seraya mempelajari ilmu pengetahuan mereka berusaha menyingkap rahasia jagat raya yg telah diciptakan oleh Tuhan dan mengungkap hukum-hukum dan detail-detail dalam ciptaan-Nya. Ahli astronomi seperti Leonardo da Vinci Copernicus Keppler dan Galileo bapak palentologi; Cuvier perintis botani dan zoologi Linnaeus dan Isaac Newton yg dijuluki sebagai “ilmuwan terbesar yg pernah ada” semua mempelajari ilmu pengetahuan dgn tidak hanya meyakini keberadaan Tuhan tetapi juga bahwa keselurohan alam semesta adl hasil ciptaan-Nya. Albert Einstein yg dianggap sebagai orang paling jenius di zaman kita adl seorang ilmuwan yg mempercayai Tuhan dan menyatakan “Saya tidak bisa membayangkan ada ilmuwan sejati tanpa keimanan mendalam seperti itu. Ibaratnya ilmu pengetahuan tanpa agama akan pincang.” Salah seorang pendiri fisika modern dokter asal Jerman Max Planck mengatakan bahwa tiap orang yg mempelajari ilmu pengetahuan dgn sungguh-sungguh akan membaca pada gerbang istana ilmu pengetahuan sebuah kata “berimanlah”. Keimanan adl atribut penting seorang ilmuwan. Teori evolusi merupakan buah filsafat materialistis yg muncul bersamaan dgn kebangkitan filsafat-filsafat materialistis kuno dan kemudian menyebar luas di abad ke-19. Seperti telah disebutkan sebelumnya paham materialisme berusaha menjelaskan alam semesta melalui faktor-faktor materi. Karena menolak penciptaan pandangan ini menyatakan bahwa segala sesuatu hidup atau tidak hidup muncul tidak melalui penciptaan tetapi dari sebuah peristiwa kebetulan yg kemudian mencapai kondisi teratur. AKan tetapi akal manusia sedemikian terstruktur sehingga mampu memahami keberadaan sebuah kehendak yg mengatur di mana pun ia menemukan keteraturan. Filsafat materialistis yg bertentangan dgn karakteristik paling mendasar akal manusia ini memunculkan teori evolusi di pertengahan abad ke-19. Khayalan Darwin Orang yg mengemukakan teori evolusi sebagaimana yg dipertahankan dewasa ini adl seorang naturalis amatir dari Inggris Charles Robert Darwin. Darwin tidak pernah mengenyam pendidikan formal di bidang biologi. Ia hanya memiliki ketertarikan amatir pada alam dan makhluk hidup. Minat tersebut mendorongnya bergabung secara sukarela dalam ekspedisi pelayaran dgn sebuah kapal bernama H.M.S. Beagle yg berangkat dari Inggris tahun 1832 dan mengarungi berbagai belahan dunia selama lima tahun. Darwin muda sangat takjub melihat beragam spesies makhluk hidup terutama jenis-jenis burung finch tertentu di kepulauan Galapagos. Ia mengira bahwa variasi pada paroh burung-burung tersebut disebabkan oleh adaptasi mereka terhadap habitat. Dengan pemikiran ini ia menduga bahwa asal-usul kehidupan dan spesies berdasar pada konsep “adaptasi terhadap lingkungan”. Menurut Darwin aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan tetapi berasal dari nenek moyang yg sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam. Hipotesis Darwin tidak berdasarkan penemuan atau peneliteian ilmiah apa pun tetapi kemudian ia menjadikannya sebuah teori monumental berkat dukungan dan dorongan para ahli biologi materialis terkenal pada masanya. Gagasannya menyatakan bahwa individu-individu yg beradaptasi pada habitat mereka dgn cara terbaik akan menurunkan sifat-sifat mereka kepada generasi berikutnya. Sifat-sifat yg menguntungkan ini lama kelamaan terakumulasi dan mengubah suatu individu menjadi spesies yg sama sekali berbeda dgn nenek moyangnya . Menurut Darwin manusia adl hasil paling maju dari mekanisme ini. Darwin menamakan proses ini “evolusi melalui seleksi alam”. Ia mengira telah menemukan “asal-usul spesies” suatu spesies berasal dari spesies lain. Ia memublikasikan pandangannya ini dalam bukunya yg berjudul The Origin of Spesies By Means of Natural Selection pada tahun 1859. Darwin sadar bahwa teorinya menghadapi banyak masalah. Ia mengakui ini dalam bukunya pada bab Difficulties of the Theory. Kesulitan-kesulitan ini terutama pada catatan fosil dan organ-organ rumit makhluk hidup. Darwin berharap kesulitan-kesulitan ini akan teratasi oleh penemuan-penemuan baru tetapi bagaimanapun ia tetap mengajukan sejumlah penjelasan yg sangat tidak memadai utk sebuah kesulitan tersebut. Seorang ahli Fisika Amerika Lipson mengomentari “kesulitan-kesulitan” Darwin tersebut “Ketika membaca The Origin of Spesies saya mendapati bahwa Darwin sendiri tidak seyakin yg sering dikatakan orang tentangnya; bab Difficulties of The Theory misalnya menunjukkan keragu-raguannya yg cukup besar. Sebagai seorang fisikawan saya secara khusus merasa terganggu oleh komentarnya mengenai bagaimana mata terbentuk.” Saat menyusun teorinya Darwin terkesan dgn para ahli biologi evolusionis sebelumnya terutama seorang ahli biologi Prancis Lamarck. Menurut Lamark makhluk hidup mewariskan ciri-ciri yg mereka dapatkan selama hidupnya dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga terjadilah evolusi. Sebagai contoh jerapah berevolusi dari binatang yg menyerupai antelop. Perubahan ini terjadi dgn memanjangkan leher mereka sedikit demi sedikit dari generasi ke generasi ketika berusaha menjangkau dahan yg lbh tinggi utk memperoleh makanan. Darwin menggunakan hipotesis Lamarck tentang “pewarisan sifat-sifat yg diperoleh” sebagai faktor yg menyebabkan makhluk hidup berevolusi. Namun Darwin dan Lamarck telah keliru sebab pada masa mereka kehidupan hanya dapat dipelajari dgn teknologi yg sangat primitif dan pada tahap yg sangat tidak memadai. Bidang-bidang ilmu pengetahuan seperti genetika dan biokimia belum ada sekalipun hanya nama. Karena itu teori mereka harus bergantung sepenuhnya pada kekuatan imajinasi. Pada saat gema buku Darwin tengah berkumandang seorang ahli botana Austria bernama Gregor Mendel menemukan hukum penurunan sifat pada tahun 1865. Meskipun tidak banyak dikenal orang hingga akhir abad ke-19 penemuan Mendel mendapat perhatian besar di awal tahun 1900-an. Inilah awal kelahiran ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian struktur gen dan kromosom ditemukan. Pada tahun 1950-an penemuan struktur molekul DNA yg berisi informasi genetis menghempaskan teori evolusi ke dalam krisis. Alasannya adl kerumitan luar biasa dari kehidupan dan ketidakabsahan mekanisme evolusi yg diajukan Darwin. Perkembangan ini mestinya membuat teori Darwin terbuang dalam keranjang sampah sejarah. Namun ini tidak terjadi krn ada kelompok-kelompok tertentu yg bersikeras merivisi memperbarui dan mengangkat kembali teori ini pada kedudukan ilmiah. Kita dapat memahami maksud upaya-upaya tersebut hanya jika menyadari bahwa di belakang teori ini terdapat tujuan idiologis bukan sekadari kepentingan ilmiah. Usaha Putus Asa Neodarwinisme Teori Darwin jatuh terpuruk dalam krisis krn hukum-hukum genetika yg ditemukan pada perempatan pertama abad ke-20. Meskipun demikian sekelompok ilmuwan yg bertekat bulat tetap setia kepada Darwin berusaha mencari jalan keluar. Mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan yg diadakan oleh Geological Society of America pada tahun 1941. Ahli genetika seperti G. Ledyard Stebbins dan Theodosius Dobzhansky; ahli zoologi seperti Ernst Mayr dan Julian Huxley; ahli paleontologi seperti George Gaylord Simpson dan Glenn L. Jepsen; ahli genetika matematis seperti Ronald Fisher dan Sewal Right setelah pembicaraan panjang akhirnya menyetujui cara-cara utk “menambali” sulam darwinisme. Kader-kader ini berfokus pada pertanyaan tentang asal-usul variasi menguntungkan yg diasumsikan menjadi penyebab makhluk hidup berevolusi-sebuah masalah yg tidak bisa dijelaskan oleh Darwin sendiri dan dielakkan dgn bergantung pada teori Lamarck. Gagasan mereka kali ini adl “mutasi acak”. Mereka menamakan teori baru ini “Teori Evolusi Sintesis Modern” yg dirumuskan dgn manambahkan konsep mutasi pada teori seleksi alam Darwin. Dalam waktu singkat teori ini dikenal sebagai neodarwinisme dan mereka yg mengemukakan ini disebut neodarwinis. Beberapa dekade berikutnya era perjuangan berat utk membuktika kebenaran neodarwinisme. Telah diketahui bahwa mutasi atau “kecelakaan” yg terjadi pada gen-gen makhluk hidup selalu membahayakan. Neodarwinis berupaya memberikan contoh “mutasi yg menguntungkan” dgn melakukan ribuan eksperimen mutasi. Akan tetapi semua upaya mereka berakhir dgn kegagalan total. Mereka juga berupaya membuktikan bahwa makhluk hidup pertama muncul secara kebetulan di bawah kondisi-kondisi bumi primitif seperti yg diasumsikan teori tersebut. Akan tetapi eksperimen-eksperimen ini pun menemui kegagalan. Setiap eksperimen yg bertujuan membutktikan bahwa kehidupan dapat dimunculkan secara kebetulan telah gagal. Perhitungan probabilitas membuktikan bahwa tidak ada satu pun protein yg merupakan molekul penyusun kehidupan dapat muncul secara kebetulan. Begitu pula sel yg menurut anggapan evolusionis muncul secara kebetulan pada kondisi bumi primitif dan tidak terkendali tidak dapat disintesis oleh laboratorium-labotarium abad ke-20 yg tercanggih sekalipun. Teori neodarwinis telah ditumbangkan pula oleh catatan fosil. Tidak pernah ditemukan di belahan dunia mana pun “bentuk-bentuk transisi” yg diasumsikan teori neodarwinis sebagai bukti evolusi bertahap pada makhluk hidup dari spesies primitif ke spesies lbh maju. Begitu pula perbandingan anatomi menunjukkan bahwa spesies yg diduga telah berevolusi dari spesies lain ternyata memiliki ciri-ciri anatomi yg sangat berbeda sehingga mereka tidak mungkin menjadi nenek moyang dan keturunannya. Neodarwinisme memang tidak pernah menjadi teori ilmiah tetapi merupakan sebuah dogma ideologis kalau tidak bisa disebut sebagai semacam “agama”. Oleh krn itu pendukung teori evolusi masih saja mempertahankannya meskipun bukti-bukti berbicara lain. Tetapi ada satu hal yg mereka sendiri tidak sependapat yaitu model evolusi mana yg “benar” dari sekian banyak model yg diajukan. Salah satu terpenting dari model-model tersebut adl sebuah skenario fantastis yg disebut “punctuated equilibrium” Coba-Coba Punctuated Equilibrium Sebagian ilmuwan yg mempercayai teori evolusi menerima teori neodarwinis bahwa evolusi terjadi secara perlahan dan bertahap. Pada beberapa dekade terakhir ini telah dikemukakan sebuah model lain yg dinamakan “puntuated equilibrium”. Model ini menolak gagasan Darwin tentang evolusi yg terjadi secara kumulatif dan sedikit demi sedikit. Sebaliknya model ini menyatakan evolusi terjadi dalam “loncatan” besar yg diskontinu. Pembela fanatik pendapat ini pertama kali muncul pada awal tahun 1970-an. Awalnya dua orang ahli paleontologi Amerika Niles Eldredge dan Stephen Jay Gould sangat sadar bahwa pernyataan neodarwinis telah diruntuhkan secara absolut oleh catatan fosil. Fosil-fosil telah membuktikan bahwa makhluk hidup tidak berasal dari evolusi bertahap tetapi muncul tiba-tiba dan sudah terbentuk sepenuhnya. Hingga sekarang neodarwinis senantiasa berhadap bahwa bentuk peralihan yg hilang suatu hari akan ditemukan. Eldrede dan Gould menyadari bahwa harapan ini tidak berdasar namun di sisi lain mereka tetap tidak mampu meninggalkan dogma evolusi. Karena itulah akhirnya mereka mengemukakan sebuah model baru yg disebut puntuated equilibrium tadi. Inilah model yg menyatakan bahwa evolusi tidak terjadi sebagai hasil dari variasi minor namun dalam perubahan besar dan tiba-tiba. Model ini hanya sebuah khayalan. Sebagai contoh O.H. Shindewolf seorang ahli paleontologi dari Eropa yg merintis jalan bagi Eldredge dan Gould menyatakan bahwa burung pertama muncul dari sebutir telur reptil sebagai “mutasi besar-besaran” yakni akibat “kecelakaan” besar yg terjadi pada struktur gen. Menurut teori tersebut seekor binatang darat dapat menjadi paus raksasa setelah mengalami perubahan menyeluroh secara tiba-tiba. Pernyataan yg sama sekali bertentangan dgn hukum-hukum genetika biofisika dan biokimia ini sama ilmiahnya dgn dongen katak yg menjadi pangeran! Dalam ketidakberdayaan krn pandangan neodarwinis terpuruk dalam krisis sejumlah ahli paleontologi pro-evolusi mempercayai teori ini teori baru yg bahkan lbh ganjil daripada neodarwinisme itu sendiri. Satu-satunya tujuan model ini adl memberi penjelasan utk mengisi celah dalam catatan fosil yg tidak dapat dijelaskan model neodarwinis. Namun usaha menjelaskan kekosongan fosil dalam evolusi burung dgn pernyataan bahwa “seekor burung muncul tiba-tiba dari sebutir telur reptil” sama sekali tidak rasional. Sebagaimana diakui oleh evolusionis sendiri evolusi dari satu spesies ke spesies lain membutuhkan perubahan besar informasi genetis yg menguntungkan. AKan tetapi tidak ada mutasi yg memperbaiki informasi genetis atau menambahkan informasi baru padanya. Mutasi hanya merusak informasi genetis. Dengan demikian “mutasi besar-besaran” yg digambarkan oleh model puntuated equlibrium hanya akan menyebabkan pengurangan atau perusakan “besar-besaran” pada informasi genetis. Lebih jauh lagi model puntuated equilibrium runtuh sejak pertama kali muncul krn ketidakmampuannya menjawab pertanyaan tentang asal-usul kehidupan pernyataan serupa yg menggugurkan model neo-Darwinis sejak awal. Karena tidak satu protein pun yg muncul secara kebetulan perdebatan mengenai apakah organisme yg terdiri dari milyaran protein mengalami proses evolusi secara “tiba-tiba” atau “bertahap” tidak masuk akal. Kendati demikian neodarwinisme masih menjadi model yg terlintas dalam pikiran ketika “evolusi” menjadi pokok perbincangan dewasa ini. Dalam bab-bab selanjutnya kita akan melihat dua mekanisme rekaan model neodarwinis kemudian memeriksa catatan fosil utk menguji model saat ini. Setelah itu kita akan membahas pertanyaan tentang asal usul kehidupan yg menggugurkan model neodarwinis dan semua model evolusionis lain seperti “evolusi dgn lompatan” . Sebelumnya ada baiknya mengingatkan pembaca bahwa fakta yg akan kita hadapi di tiap tahap adl bahwa skenario evolusi merupakan sebuah dongeng belaka kebohongan besar yg sama sekali bertentangan dgn dunia nyata. Ini adl sebuah skenario yg telah digunakan utk membohongi dunia selama 140 tahun. Berkat penemuan-penemuan ilmiah terakhir usaha kontinu yg mempertahankan teori tersebut akhirnya menjadi mustahil. Sumber The Evolution Deceit Harun YahyaDiterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Dzikra Telp. 7276475 7232147 E-mail dzikra@syaamil.co.id Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Indonesia

sumber file al_islam.chm

TEORI EVOLUSI MANAJEMEN


  1. A. Teori Manajemen Ilmiah / Klasik

    Variabel yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah :

    1. Pentingnya peran manajer

    2. Pemanfaatan dan pengangkatan tenaga kerja

    3. Tanggung jawab kesejahteraan karyawan

    4. Iklim kondusif

    Manajemen ilmiah memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja.

    A.1. Robert Owen (1771 - 1858)

    Menekankan tentang peranan sumberdaya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan.

    Dilatar-belakangi oleh kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai, dimana kondisi kerja

    sebelumnya dan kehidupan pekerja pada masa itu sangat buruk.

    A.2. Charles Babbage (1792 - 1871)

    Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian

    pekerjaan. Sehingga setiap ekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap

    pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya.

    A.3. Frederick W. Taylor :

    Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu

    kerja (time & motion studies). Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat

    dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.

    A.4. Hennry L. Gantt (1861 - 1919) :

    Gagasannya mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, yaitu :

    1. Kerjasama saling menguntungkan antara manajer dan karyawan.

    2. Mengenal metode seleksi yang tepat.

    3. Sistem bonus dan instruksi.

    Akan tetapi Hennry menolak sistem upah differensial. Karena hanya berdampak kecil terhadap

    motivasi kerja.

    A.5. Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) :

    Berdasarkan pada gagasan hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam

    pekerjaan. Menurut Frank, antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap gerakan

    yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Menurut Lillian, dalam pengaturan untuk

    mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.

    A.6. Herrrington Emerson (1853 - 1931) :

    Berpendapat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen dalam industri adalah

    adanya pemborosan dan inefisinesi. Oleh karena itu ia menganjurkan :

    1. Tujuan jelas

    2. Kegiatan logis

    3. Staf memadai

    4. Disiplin kerja

    5. Balas jasa yang adil

    6. Laporan terpecaya

    7. Urutan instruksi

    8. Standar kegiatan

    9. Kondisi standar

    10. Operasi standar

    11. Instruksi standar

    12. Balas jasa insentif


    B. Teori Organisasi Klasik

    B.1. Fayol (1841 - 1925) :

    Teori organisasi klasik mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :

    1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.

    2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.

    3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.

    4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.

    5. Accountancy ; kegiatan akuntansi

    6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :

    - Planning ; kegiatan perencanaan<>

    - Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan

    - Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian

    - Commanding ; kegiatan pengarahann

    - Controlling ; kegiatan penngawasaan

    Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :

    - Pembagian kerja

    - Asas wewenang dan tanggungjawab<>

    - Disiplin

    - Kesatuan perintah

    - Kesatuan arah

    - Asas kepentingan umum
    >

    - Pemberian janji yang wajar

    - Pemusatan wewenang

    - Rantai berkala

    - Asas keteraturan

    - Asas keadilan

    - Kestabilan masa jabatan

    - Inisiatif

    - Asas kesatuan

    B.2. James D. Mooney :

    Menurut James, kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen adalah :

    a. Koordinasi

    b. Prinsip skala

    c. Prinsip fungsional

    d. Prinsip staf


    C. Teori Hubungan Antar Manusia (1930 - 1950)

    Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan

    mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk

    menunjang tingkat produktifitas kerja.

    Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para manajer bahwa organisasi itu adalah suatu sistem

    sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya

    bisa lebih tinggi.


    D. Teori Behavioral Science :

    D.1. Abraham maslow

    Mengembangkan adanya hirarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan

    dinamika proses motivasi.

    D.2. Douglas Mc Gregor

    Dengan teori X dan teori Y.

    D.3. Frederich Herzberg

    Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.

    D.4. Robert Blake dan Jane Mouton

    Membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial.

    D.5. Rensis Likert

    Menidentifikasikan dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat sistem

    manajemen.

    D.6. Fred Fiedler

    Menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.

    D.7. Chris Argyris

    Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.

    D.8. Edgar Schein

    Meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.

    Teori behavioral science ditandai dengan pandangan baru mengenai perilaku orang per orang,

    perilaku kelompok sosial dan perilaku organisasi.


    E. Teori Aliran Kuantitatif

    Memfokuskan keputusan manajemen didasarkan atas perhitungan yang dapat

    dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

    Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ilmu manajemen yang biasa dimulai dengan langkah

    sebagai berikut :

    1. Merumuskan masalah

    2. Menyusun model aritmatik

    3. Mendapatkan penyelesaikan dari model

    4. Mengkaji model dan hasil model

    5. Menetapkan pengawasan atas hasil

    6. Melakukan implementasi

    Alat bantu yang sering digunakan dalam metode ini adalah motede statistik dan komputerisasi

    untuk melihat kemungkinan dan peluang sebaai informasi yang dibutuhkan pihak manajemen.
    Posted by andrys note at 4:06 AM
    Labels: mnagement, money, strategyA. Teori Manajemen Ilmiah / Klasik

    Variabel yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah :

    1. Pentingnya peran manajer

    2. Pemanfaatan dan pengangkatan tenaga kerja

    3. Tanggung jawab kesejahteraan karyawan

    4. Iklim kondusif

    Manajemen ilmiah memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja.

    A.1. Robert Owen (1771 - 1858)

    Menekankan tentang peranan sumberdaya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan.

    Dilatar-belakangi oleh kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai, dimana kondisi kerja

    sebelumnya dan kehidupan pekerja pada masa itu sangat buruk.

    A.2. Charles Babbage (1792 - 1871)

    Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian

    pekerjaan. Sehingga setiap ekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap

    pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya.

    A.3. Frederick W. Taylor :

    Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu

    kerja (time & motion studies). Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat

    dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.

    A.4. Hennry L. Gantt (1861 - 1919) :

    Gagasannya mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, yaitu :

    1. Kerjasama saling menguntungkan antara manajer dan karyawan.

    2. Mengenal metode seleksi yang tepat.

    3. Sistem bonus dan instruksi.

    Akan tetapi Hennry menolak sistem upah differensial. Karena hanya berdampak kecil terhadap

    motivasi kerja.

    A.5. Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) :

    Berdasarkan pada gagasan hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam

    pekerjaan. Menurut Frank, antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap gerakan

    yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Menurut Lillian, dalam pengaturan untuk

    mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.

    A.6. Herrrington Emerson (1853 - 1931) :

    Berpendapat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen dalam industri adalah

    adanya pemborosan dan inefisinesi. Oleh karena itu ia menganjurkan :

    1. Tujuan jelas

    2. Kegiatan logis

    3. Staf memadai

    4. Disiplin kerja

    5. Balas jasa yang adil

    6. Laporan terpecaya

    7. Urutan instruksi

    8. Standar kegiatan

    9. Kondisi standar

    10. Operasi standar

    11. Instruksi standar

    12. Balas jasa insentif


    B. Teori Organisasi Klasik

    B.1. Fayol (1841 - 1925) :

    Teori organisasi klasik mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :

    1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.

    2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.

    3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.

    4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.

    5. Accountancy ; kegiatan akuntansi

    6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :

    - Planning ; kegiatan perencanaan<>

    - Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan

    - Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian

    - Commanding ; kegiatan pengarahann

    - Controlling ; kegiatan penngawasaan

    Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :

    - Pembagian kerja

    - Asas wewenang dan tanggungjawab<>

    - Disiplin

    - Kesatuan perintah

    - Kesatuan arah

    - Asas kepentingan umum
    >

    - Pemberian janji yang wajar

    - Pemusatan wewenang

    - Rantai berkala

    - Asas keteraturan

    - Asas keadilan

    - Kestabilan masa jabatan

    - Inisiatif

    - Asas kesatuan

    B.2. James D. Mooney :

    Menurut James, kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen adalah :

    a. Koordinasi

    b. Prinsip skala

    c. Prinsip fungsional

    d. Prinsip staf


    C. Teori Hubungan Antar Manusia (1930 - 1950)

    Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan

    mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk

    menunjang tingkat produktifitas kerja.

    Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para manajer bahwa organisasi itu adalah suatu sistem

    sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya

    bisa lebih tinggi.


    D. Teori Behavioral Science :

    D.1. Abraham maslow

    Mengembangkan adanya hirarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan

    dinamika proses motivasi.

    D.2. Douglas Mc Gregor

    Dengan teori X dan teori Y.

    D.3. Frederich Herzberg

    Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.

    D.4. Robert Blake dan Jane Mouton

    Membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial.

    D.5. Rensis Likert

    Menidentifikasikan dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat sistem

    manajemen.

    D.6. Fred Fiedler

    Menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.

    D.7. Chris Argyris

    Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.

    D.8. Edgar Schein

    Meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.

    Teori behavioral science ditandai dengan pandangan baru mengenai perilaku orang per orang,

    perilaku kelompok sosial dan perilaku organisasi.


    E. Teori Aliran Kuantitatif

    Memfokuskan keputusan manajemen didasarkan atas perhitungan yang dapat

    dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

    Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ilmu manajemen yang biasa dimulai dengan langkah

    sebagai berikut :

    1. Merumuskan masalah

    2. Menyusun model aritmatik

    3. Mendapatkan penyelesaikan dari model

    4. Mengkaji model dan hasil model

    5. Menetapkan pengawasan atas hasil

    6. Melakukan implementasi

    Alat bantu yang sering digunakan dalam metode ini adalah motede statistik dan komputerisasi

    untuk melihat kemungkinan dan peluang sebaai informasi yang dibutuhkan pihak manajemen.
    Posted by andrys note at 4:06 AM
    Labels: mnagement, money, strategy

    A. Teori Manajemen Ilmiah / Klasik

    Variabel yang diperhatikan dalam manajemen ilmiah :

    1. Pentingnya peran manajer

    2. Pemanfaatan dan pengangkatan tenaga kerja

    3. Tanggung jawab kesejahteraan karyawan

    4. Iklim kondusif

    Manajemen ilmiah memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja.

    A.1. Robert Owen (1771 - 1858)

    Menekankan tentang peranan sumberdaya manusia sebagai kunci keberhasilan perusahaan.

    Dilatar-belakangi oleh kondisi dan persyaratan kerja yang tidak memadai, dimana kondisi kerja

    sebelumnya dan kehidupan pekerja pada masa itu sangat buruk.

    A.2. Charles Babbage (1792 - 1871)

    Menganjurkan untuk mengadakan pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian

    pekerjaan. Sehingga setiap ekerja dapat dididik dalam suatu keterampilan khusus. Setiap

    pekerja hanya dituntut tanggungjawab khusus sesuai dengan spesialisasinya.

    A.3. Frederick W. Taylor :

    Merupakan titik tolak penerapan manajemen secara ilmiah hasil penelitian tentang studi waktu

    kerja (time & motion studies). Dengan penekanan waktu penyelesaian pekerjaan dapat

    dikorelasikan dengan upah yang diterima. Metode ini disebut sistem upah differensial.

    A.4. Hennry L. Gantt (1861 - 1919) :

    Gagasannya mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, yaitu :

    1. Kerjasama saling menguntungkan antara manajer dan karyawan.

    2. Mengenal metode seleksi yang tepat.

    3. Sistem bonus dan instruksi.

    Akan tetapi Hennry menolak sistem upah differensial. Karena hanya berdampak kecil terhadap

    motivasi kerja.

    A.5. Frank B dan Lillian M. Gilbreth (1868 - 1924 dan 1878 - 1972) :

    Berdasarkan pada gagasan hasil penelitian tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam

    pekerjaan. Menurut Frank, antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan. Setiap gerakan

    yang dihilangkan juga menimbulkan kelelahan. Menurut Lillian, dalam pengaturan untuk

    mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan.

    A.6. Herrrington Emerson (1853 - 1931) :

    Berpendapat bahwa penyakit yang mengganggu sistem manajemen dalam industri adalah

    adanya pemborosan dan inefisinesi. Oleh karena itu ia menganjurkan :

    1. Tujuan jelas

    2. Kegiatan logis

    3. Staf memadai

    4. Disiplin kerja

    5. Balas jasa yang adil

    6. Laporan terpecaya

    7. Urutan instruksi

    8. Standar kegiatan

    9. Kondisi standar

    10. Operasi standar

    11. Instruksi standar

    12. Balas jasa insentif


    B. Teori Organisasi Klasik

    B.1. Fayol (1841 - 1925) :

    Teori organisasi klasik mengklasifikasikan tugas manajemen yang terdiri atas :

    1. Technical ; kegiatan memproduksi produk dan mengoranisirnya.

    2. Commercial ; kegiatan membeli bahan dan menjual produk.

    3. Financial ; kegiatan pembelanjaan.

    4. Security ; kegiatan menjaga keamanan.

    5. Accountancy ; kegiatan akuntansi

    6. Managerial ; melaksanakan fungsi manajemen yang terdiri atas :

    - Planning ; kegiatan perencanaan<>

    - Organizing ; kegiatan mengorganiisasikaan

    - Coordinating ; kegiatan pengkoorrdinasiian

    - Commanding ; kegiatan pengarahann

    - Controlling ; kegiatan penngawasaan

    Selain hal tersebut diatas, asas-asa umum manajemen menurut Fayol adalah :

    - Pembagian kerja

    - Asas wewenang dan tanggungjawab<>

    - Disiplin

    - Kesatuan perintah

    - Kesatuan arah

    - Asas kepentingan umum
    >

    - Pemberian janji yang wajar

    - Pemusatan wewenang

    - Rantai berkala

    - Asas keteraturan

    - Asas keadilan

    - Kestabilan masa jabatan

    - Inisiatif

    - Asas kesatuan

    B.2. James D. Mooney :

    Menurut James, kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen adalah :

    a. Koordinasi

    b. Prinsip skala

    c. Prinsip fungsional

    d. Prinsip staf


    C. Teori Hubungan Antar Manusia (1930 - 1950)

    Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan psikologis terhadap bawahan, yaitu dengan

    mengetahui perilaku individu bawahan sebagai suatu kelompok hubungan manusiawi untuk

    menunjang tingkat produktifitas kerja.

    Sehingga ada suatu rekomendasi bagi para manajer bahwa organisasi itu adalah suatu sistem

    sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis karyawan agar produktifitasnya

    bisa lebih tinggi.


    D. Teori Behavioral Science :

    D.1. Abraham maslow

    Mengembangkan adanya hirarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku manusia dan

    dinamika proses motivasi.

    D.2. Douglas Mc Gregor

    Dengan teori X dan teori Y.

    D.3. Frederich Herzberg

    Menguraikan teori motivasi higienis atau teori dua faktor.

    D.4. Robert Blake dan Jane Mouton

    Membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial.

    D.5. Rensis Likert

    Menidentifikasikan dan melakukan penelitian secara intensif mengenai empat sistem

    manajemen.

    D.6. Fred Fiedler

    Menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.

    D.7. Chris Argyris

    Memandang organisasi sebagai sistem sosial atau sistem antar hubungan budaya.

    D.8. Edgar Schein

    Meneliti dinamika kelompok dalam organisasi.

    Teori behavioral science ditandai dengan pandangan baru mengenai perilaku orang per orang,

    perilaku kelompok sosial dan perilaku organisasi.


    E. Teori Aliran Kuantitatif

    Memfokuskan keputusan manajemen didasarkan atas perhitungan yang dapat

    dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

    Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan ilmu manajemen yang biasa dimulai dengan langkah

    sebagai berikut :

    1. Merumuskan masalah

    2. Menyusun model aritmatik

    3. Mendapatkan penyelesaikan dari model

    4. Mengkaji model dan hasil model

    5. Menetapkan pengawasan atas hasil

    6. Melakukan implementasi

    Alat bantu yang sering digunakan dalam metode ini adalah motede statistik dan komputerisasi

    untuk melihat kemungkinan dan peluang sebaai informasi yang dibutuhkan pihak manajemen.
    Posted by andrys note at 4:06 AM
    Labels: mnagement, money, strategy